Demi istri sembuh Tanam Ganja untuk Pengobatan Istri

http://tribunsumut.com-Masih ingatkah Anda dengan kisah Fidelis Arie Sudewarto? Pria asal Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar), ini menjadi viral atau buah bibir di dunia maya, lantaran kepemilikan tanaman ganja di rumahnya.

Bukan karena memiliki 39 batang ganja, tapi alasan dia menanam tanaman terlarang itu untuk obat sang istri, Yeni Riawati, yang mengidap penyakit langka, Syringomyelia atau munculnya kista di sumsum tulang belakang.

Fidelis kemudian ditangkap aparat Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sanggau, pertengahan Februari 2017. Ia pun tak bisa lagi memberikan ekstrak ganja itu untuk mengobati istrinya.

Tepat pada Sabtu, 25 Maret 2017, istri tercinta pun tak kuat melawan penyakit tersebut. Yeni meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Th Djaman, Kabupaten Sanggau. Dia meninggal usai 32 hari Fidelis dibui di Rutan Kabupaten Sanggau, yang mana selama itu pula kondisi Yeni kembali menurun.


Kini, kasus kepemilikan 39 pohon ganja oleh Fidelis Arie Sudewarto memasuki persidangan. Ia pertama kali menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Sanggau, Kalbar, pada 2 Mei 2017.

Selanjutnya, hakim menolak eksepsi terdakwa pada sidang keempat yang berlangsung pada 22 Mei 2017. Adapun Fidelis membacakan pleidoi atau nota pembelaan di persidangan pada Rabu, 19 Juli 2017.

Yohana LA Suyati, kakak kandung Fidelis Arie Sudewarto menuturkan, naskah asli pleidoi tersebut ditulis tangan oleh Fidelis. Yohana berujar, nota pembelaan ini merupakan miniatur dari naskah buku yang sedang disusun Fidelis dengan judul I am a Patient, Not a Criminal.

“Karena segala keterbatasan yang ia miliki sebagai seorang tahanan, naskah buku itu pun ia susun dengan menggunakan tulis tangan,” kata Yohana, Senin (24/7/2017).

Yohana menjelaskan, sebagaimana yang ia sampaikan di bagian pengantar nota pembelaan kasus kepemilikan tanaman ganja yang menjerat Fidelis Arie Sudewarto, rangkuman naskah buku tersebut disusun oleh Fidelis menjadi surat untuk istrinya. Surat tersebut menjadi bagian terpenting dalam nota pembelaan sang kakak, Fidelis.