James Cameron Sebut Film Wonder Woman Kemunduran Feminisme

TribunSumut.com,LONDON – Sutradara kawakan, James Cameron, menjadi bulan-bulanan kritikan setelah mengungkapkan pandangannya tentang kesuksesan yang diraih film Wonder Woman dalam sebuah wawancara dengan The Guardian. Dalam wawancara itu, dia menilai apresiasi yang diberikan kepada film Wonder Woman merupakan sesuatu kekeliruan.

“Semua ucapan selamat yang disampaikan kalangan Hollywood kepada Wonder Woman itu salah arah. Dia adalah ikon yang diobjekkan, dan hanya laki laki Hollywood yang melakukan hal yang sama,” ujar James, seperti dikutip Deadline.

Dia mengelak penilaiannya itu merupakan bentuk dari ketidaksukaannya atas film yang dibintangi Gal Gadot tersebut. “Saya tidak mengatakan bahwa saya tidak menyukai film ini. Tapi bagi saya ini adalah langkah mundur,” kata dia.

Menurut James, kondisi Wonder Woman berbeda dengan tokoh Sarah Connor di film Terminator yang dia sutradarai. Secara sasaran penonton, dia menilai Terminator adalah film yang cukup sukses.

“Sarah Connor bukan ikon kecantikan. Dia kuat, dia adalah ibu yang mengerikan dan dia mendapatkan rasa hormat dari penonton. Dan bagi saya (manfaat karakter seperti Sarah) sangat jelas. Maksud saya, setengah penonton adalah perempuan,” beber dia.

Ucapan itu langsung mendapatkan berbagai tanggapan dari kalangan selebritas dan komunitas pecinta film Hollywood dengan sebagian besar mengkritik ucapan tersebut. Kritikan bahkan keluar dari Patty Jenkins, sutradara Wonder Woman.

“Ketidakmampuan James Cameron untuk memahami apa itu Wonder Woman, atau apa yang dia perjuangkan, bagi semua wanita di seluruh dunia itu tidak mengejutkan, meskipun dia adalah pembuat film yang hebat, dia bukanlah wanita. Wanita kuat itu hebat. Dia memuji film saya, Monster dan penggambaran kami atas wanita yang kuat sangat diapresiasi,” tulis Patty di akun Twitter-nya.

Patty juga mengkritik ucapan James bahwa Sarah Connor adalah protagonis wanita yang ideal. Menurut sutradara berusia 46 tahun itu, wanita tidak perlu selalu menjadi keras, tanggung dan bermasalah untuk menjadi kuat.

“Kita tidak bebas untuk menjadi multidimensi atau merayakan ikon wanita di mana saja karena dia menarik dan disayangi, kalau begitu, kita belum berjalan sangat jauh. Saya yakin wanita bisa dan haris menjadi SEGALANYA seperti karakter utama pria. Tidak ada benar atau salah mengenai wanita yang kuat. Audiens wanita yang besar yang membut film itu menjadi terkenal bisa memilih dan menilai ikon kemajuan mereka,” papar Patty.