Kiprah Bisnis dan Politik Setya Novanto Dalam Lingkaran Keluarga Cendana

TRIBUN SUMUT – Suatu hari dua orang utusan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto menghadap Setya Novanto. Dua orang itu sengaja dikirim menemui Novanto untuk meminta saran tentang rencana pendirian Partai Berkarya. Novanto, saat itu masih Ketua Umum Partai Golkar, tidak bisa melarang putra bungsu Soeharto itu membikin partai baru.

Rencana pendirian partai baru itu sebenarnya cukup memberatkan Novanto. Namun alasannya bukan soal politis, melainkan pada sejarah. Golkar, bagaimanapun juga, adalah kekuatan politik yang dibesarkan sekaligus menopang kekuasaan Soeharto, sementara Tommy dan sebagian keluarga Cendana pernah menjadi bagian dari partai bergambar pohon beringin itu.

“Kalau itu kehendak Mas Tommy, tentu saya tidak bisa melarang,” kata Setnov di sela sidang korupsi e-KTP di PN Jakarta Pusat.

Komunikasi antara Setnov dan Tommy menegaskan kedekatan Novanto dan keluarga Cendana. Memang, sebelum terjun ke dunia politik, Novanto sudah menjalin hubungan baik dengan klan presiden kedua Indonesia itu.

“Ya saya memang dekat dengan Mas Tommy, Mbak Tutut, Mbak Titiek. Dekat dengan keluarga Pak Harto. Dulu pernah bikin usaha bersama-sama,” ujar Novanto menyebut nama anak-anak Soeharto yang lain: Siti Hardijanti Rukmana dan Siti Hediati Hariyadi.

Persinggungan Novanto dan keluarga Cendana ini tidak lepas dari nama Hayono Isman, mantan menteri pemuda dan olahraga tahun 1993. Hayono disebut Novanto sebagai orang yang membinanya dalam berpolitik. Hayono adalah kawan sekolah Novanto saat masih duduk di bangku SMA 9 Jakarta. Usai kuliah di Surabaya, Novanto sempat bekerja pada Hayono sebagai sopir.

Pertemanan dengan Hayono ini yang membuat jaringan Novanto berkembang. Semasa itu ia juga bekerja di PT Aninda Cipta Perdana, penyalur pupuk PT Petrokimia Gresik untuk wilayah Surabaya dan Nusa Tenggara Timur. Perusahaan itu juga milik Hayono.

Lewat relasi-relasi bisnis inilah Setnov berkenalan dengan keluarga Cendana. Salah satu keluarga Cendana yang mempromosikannya adalah Sudwikatmono, sepupu Presiden Soeharto. Perkenalan Novanto dengan Sudwikatmono tak lepas dari peran Ginanjar Kartasasmita. Saat mengenalkan Novanto dengan Sudwikatmono, Ginanjar masih menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (1985-1988).

Novanto dan Sudwikatmono kemudian menggarap proyek bersama. Proyek perdana mereka adalah pembangunan Padang Golf Nongsa Permai di Batam pada 1989. Lapangan golf dengan 9 hole itu diresmikan langsung oleh Soeharto.

Relasi bisnis Setnov ini juga makin diperkuat dengan “modal” dari keluarga istri pertamanya, Luciana Lily Herliyanti. Luciana adalah putri Brigjen Sudharsono, mantan Kapolda Jawa Barat. Novanto juga dipercaya mengelola bisnis pom bensin milik mertuanya itu.

Proyek KTP Novanto dan Keluarga Cendana

Setelah sukses menggarap proyek dengan Sudwikatmono, Novanto makin akrab dengan keluarga cendana. Ia kemudian dipercaya untuk mengelola bisnis keluarga Soeharto. Salah satunya PT Solusindo Mitra Sejati (SMS) milik Elsye Sigit, istri Sigit Harjojudanto, putra pertama Soeharto.

George Junus Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa menyebutkan PT SMS memonopoli proyek pembuatan KTP, persis seperti bisnis e-KTP yang kini menyeret nama Novanto sebagai terdakwa. Sementara bisnis pembuatan KTP dipegang Novanto, Tutut Soeharto dan Sudwikatmono memegang proyek pembuatan SIM dengan bendera PT Citra Permata Persada (CPP).

Kiprah Bisnis dan Politik Setya Novanto Dalam Lingkaran Keluarga Cendana
Kiprah Bisnis dan Politik Setya Novanto Dalam Lingkaran Keluarga Cendana

Belakangan, PT CPP dijalankan oleh Novanto untuk menggarap proyek yang sama. Novanto dipercaya Tutut mengelola PT CPP sejak 1991. Di bawah Novanto, CPP memenangkan tender pembuatan SIM model baru tahun 1992. Berdasarkan arsip harian Kompas edisi 2 Oktober 1992, PT CPP mengalahkan 18 perusahaan lain dalam tender. Novanto menginvestasikan Rp90 miliar untuk proyek tersebut.

Dua proyek yang digarap Novanto itu pada akhirnya bermasalah. Dalam pemberitaan Kompas edisi 30 November 1995, pembuatan KTP yang dilakukan PT SMS dinilai melanggar aturan karena turut menentukan biaya KTP. Padahal seharusnya biaya KTP ditentukan oleh DPRD.

“Penetapan biaya resmi KTP dan kartu keluarga oleh pihak Depdagri dan PT Solusindo Mitra Sejati (SMS), sebagaimana tercantum dalam surat perjanjian kerja sama Sistem Informasi Manajemen (SIM) KTP antara Mendagri dan PT SMS, menyalahi aturan yang sudah ada. Penetapan biaya seharusnya melalui pembahasan DPRD,” tulis harian Kompas.

Pada 2005, proyek pembuatan SIM model baru yang digarap PT CPP pernah disebut Badan Pemeriksa Keuangan telah merugikan negara Rp15,45 miliar karena selisih jumlah cetak SIM.

Relasi Politik di Partai Beringin

Moncer sebagai orang kepercayaan keluarga cendana mengelola bisnis, Novanto mulai menjajaki karier politik. Ia mulai terjun ke politik dengan bergabung di GM Kosgoro, organisasi underbow Partai Golkar. Pada 1990, Novanto menjadi Ketua Umum DPP GM Kosgoro.

Tahun 1993 Novanto baru mulai masuk ke jajaran pengurus DPP Golkar. Pada saat nyaris bersamaan, pada dekade terakhir pemerintahan Orde Baru, Golkar memasukkan tiga anak Soeharto: Tommy, Tutut, dan Bambang Trihatmodjo menjadi anggota MPR.

Kelihaian Novanto dalam mengelola duit ini membuatnya dilirik Golkar untuk mengatur keuangan. Pada 1998, tahun ketika Soeharto mundur sebagai presiden, Novanto diangkat menjadi bendahara DPP Golkar sekaligus Bendahara Umum Kosgoro. Pada saat bersamaan, ia juga dipercaya menjadi Koordinator Harian Regional XI (Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Timor Timur) DPP Golkar.

Saat itulah ia resmi menjadi anggota DPR RI mewakili NTT, NTB dan Timor Timur. Setelah Timor Timur merdeka, Novanto lantas fokus mengurusi daerah pemilihannya: NTT.

Di dalam Partai Golkar, Novanto tetap berdampingan dengan para kroni dan anak-anak Soeharto. Pada 2010, ia dipercaya menjadi Bendara Umum Partai Golkar, dan kemudian menjadi Ketua Umum Golkar pada 2016. Saat menjabat ketua umum, ia mengangkat Tommy sebagai anggota dewan pembina dan Titiek sebagai wakil ketua dewan pakar DPP Golkar.

Nama Novanto disebut-sebut terlibat dalam mega korupsi e-KTP saat masih menjabat bendahara umum dan ketua fraksi Golkar. Novanto dituding berperan mengatur fraksi-fraksi lain di Senayan untuk memuluskan anggaran proyek e-KTP. Proyek ini telah merugikan negara Rp2,3 triliun.

Seorang politikus yang licin, yang namanya nongol sejak kasus Bank Bali pada 2001 hingga perkara suap proyek stadion Hambalang pada 2013, Novanto akhirnya bisa terjerat pada akhir tahun lalu, dengan bumbu drama: menabrak tiang lampu, berpura-pura sakit, mengerahkan pengacara dan dokter untuk berbohong, bahkan melibatkan seorang wartawan sebagai sopirnya.

Setya Novanto dan Sudwikatmono, sepupu Soeharto, menggarap proyek bersama pembangunan padang golf di Batam pada 1989