Masih Ingat Bocah yang Sanggup Habiskan 40 Batang Rokok Sehari? Ternyata Dia . . .

Masih Ingat Bocah yang Sanggup Habiskan 40 Batang Rokok Sehari? Ternyata Dia . . .

Tribunsumut.com –  Apakah anda masih ingat enam tahun yang lalu sempat heboh anak kecil asal Sungai Lilin, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan yang kecanduan menghisap 40 batang rokok sehari?
Ya, dia adalah Ardi Rizal, saat itu usianya baru dua tahun ketika menarik perhatian dunia dengan perilakunya.
Ardi sudah dijejali rokok oleh bapakya saat berusia 18 bulan.

article-2508985-1977516d00000578-365_634x955
Bila tidak diberi rokok, Ardi langsung marah hingga membenturkan kepalanya di tembok.
Kisah Ardi ini langsung mencuat dan menghiasi berbagai media.Untuk menghentikan kebiasaan Ardi, beberapa organisasi anak-anak membantu bocah tersebut berhenti merokok dengan menerapkan pola hidup sehat.
Kecanduan merokok Ardi bisa diselesaikan, namun dia justru mengalami kecanduan makan hingga mengalami obesitas.
Sejak saat itu, Ardi menjalani berbagai perawatan untuk menerapkan hidup sehat.
Dilansir situs healthyfoodteam, sekarang Ardi yang menginjak usia 8 tahun bisa berhenti dari kecanduannya terhadap rokok dan berhasil menurunkan berat badannya.
Bahkan dalam situs itu ditampilkan foto-foto Ardi yang kini sudah besar, tapi kebenarannya masih sangat disangsikan.Secara fisik bocah pada dua foto di atas, tidak terlihat seperti anak berumur 8 tahun.
Penelurusan sripoku.com, juga menyakini kalau foto ini adalah bukan Ardi, melainkan bocah asal India.
Saat ini sripoku.com, tengah berupaya mengkonfirmasi langsung kepada keluarga Ardi, yang diketahui tinggal di Sungai Lilin, Musi Banyuasin.
Seperti diketahui, sewaktu berusia 2,5 tahun, Ardi bisa bisa menghabiskan empat bungkus rokok Surya 16 atau Sampoerna A Mild dalam sehari.

ardi-rizal-bocah-perokok-tribun_20161116_222659
Informasi yang dihimpun wartawan di kediaman Ardi, di Desa Teluk Kemang Kelurahan Sungai Lilin Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Muba, 9 Mei 2010 lalu, anak pasangan Rizal (28) dan Diana (25) ini sudah menganggap rokok sebagai makanan sehari-harinya.
Bila sehari tidak merokok Ardi akan uring-uringan dan menagis tiada henti.
Jika sudah menangis, orangtua Ardi langsung memberikan sebatang rokok kemudian menghidupkannya untuk dikonsumsi Ardi.
Gaya Ardi menghisap rokok persis orang dewasa.
Merokok sambil memegang dan memutar-mutarkan rokok di jari kecilnya.
Ardi pun bisa mengeluarkan asap dari hidung dan mulut layaknya perokok dewasa.
Menurut Rizal kebiasaan Ardi merokok sudah dimulai sejak berusia 1,5 tahun lalu.
Kala itu anak itu merasa pusing sehingga Rizal yang sedang merokok lalu memberikannya kepada putra tunggalnya ini.
Rokok yang dikonsumsi pun terbilang mahal yaitu jenis Surya 16 dan Sampoerna A Mild sehingga sehari setidaknya Rizal harus menghabiskan Rp 50 ribu untuk membeli rokok.
“Ardi sukar makan, ia lebih banyak merokok layaknya orang dewasa,” kata Rizal.
Walau bertubuh terbilang tambun namun Ardi lincah dan bisa berlari seperti anak seumurnya.
Kebiasaan Ardi dianggap biasa oleh Rizal dan Diana, pasangan ini juga merasa tidak khawatir dengan kesehatan Ardi.

11
Kecuali, kebiasaan ini memberatkan perekonomian keluarga. Sehari-hari Rizal hanya berjualan ikan di pasar Sungaililin.
“Kami belum ada rencana menghentikannya karena sudah kebiasaannya yang memberatkan justru penghasilan kami yang pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan merokok Ardi,” kata Rizal waktu itu.
Dikutip dari situs washingtonstarnews dari tribunnewsbogor.com pada akhir 2013 lalu, keberhasilan Ardi melepas kecanduannya pada nikotin, merupakan hasil dari upaya terapi psiko-sosial selama sebulan.
Para terapis mengisi waktu luang Ardi dengan berbagai kegiatan yang tepat dengan usianya.
Sang ibu, menyatakan bahwa masih ada beberapa orang yang sering menawarkan rokok kepada putranya.
Namun kini Ardi yang waktu itu berusia 5 tahun mampu mengatakan tidak.
Ia bahkan menyatakan, “Aku sayang Kak Seto. Dia pasti sedih kalau saya mulai merokok lagi dan membuat diri aku sakit.”

12
Namun sayangnya kini, bocah tersebut menghadapi ketergantungan terhadap hal lain.
Ia kini kecanduan makanan dan sulit lepas dari hal yang satu ini.
Inilah yang membuat berat badannya mencapai hingga 24 kilogram pada usia yang masih sangat dini, yakni 5 tahun pada waktu itu.
Tetapi setidaknya, Ardi sudah berhasil lepas dari batang nikotin mematikan tersebut.
Kini ia dapat melanjutkan hidupnya dan menikmati masa kecil layaknya anak-anak lain pada umumnya.
Jauh dari genggaman dan hisapan setiap batang rokok yang dulu melekat di dirinya. (Tribunsumut.com )