Negara Negara yang Bisa Menjadi Juara Piala Dunia 2018

TribunSumut.com- Ada 32 negara yang berlaga di piala Dunia 2018 namun jelas hanya satu yang akan menjadi juara.
TribunSumut mencoba memprediksi tim yang akan juara dengan mengkaji tren, statistik,dan pola dalam turnamen-turnamen terdahulu.Dari sini disimpulkan tim yang paling berpengaruh menjadi juara.

Nah, untuk bisa menjadi juara, maka tim yang berlaga di Piala Dunia 2018 harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

Harus masuk daftar unggulan
Sejak jumlah peserta Piala Dunia ditambah menjadi 32 tim pada 1998, tim yang pada akhirnya juara adalah tim unggulan.

Sejarah mencatat, sejak 1980-an hanya ada satu tim bukan unggulan yang keluar sebagai juara, yaitu Argentina pada 1986, di bawah kepemimpinan Diego Maradona.

Nama Maradona menjadi perbincangan ketika itu, tak hanya karena mengantarkan Argentina menjadi juara, juga karena gol ‘Tangan Tuhan’ yang ia masukkan ke gawang Inggris di babak perempat final.

Berdasarkan kriteria ini, maka peluang 24 tim untuk menjadi juara biasa dikatakan sangat kecil dan pada saat yang kita akan memiliki delapan tim yang punya kans besar untuk juara, yaitu: Prancis, Jerman, Brasil, Portugal, Argentina, Belgia, Polandia, dan Rusia.

Jangan menjadi tuan rumah
Rusia diuntungkan dengan sistem yang telah berjalan selama 44 tahun, yang selalu menempatkan tuan rumah sebagai salah satu unggulan.

Di peringkat FIFA Rusia hanya menempati posisi 66, yang artinya negara itu tak bisa masuk daftar tim unggulan seandainya tak menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Perlu dicatat bahwa menjadi tuan rumah bukan rute terbaik menuju juara walau sepanjang 11 turnamen pertama -dari 1930 hingga 1978- memang terdapat lima tuan rumah yang menjadi juara.

Namun sejak itu, dalam sembilan turnamen terakhir, hanya ada satu tuan rumah yang juara, yaitu Prancis pada 1998.

Negara-negara super power sepak bola seperti Italia, Jerman, dan Brasil gagal menjadi juara saat menjadi tuan rumah, masing-masing pada 1990, 2006, dan 2014.

Oleh karenanya kita bisa mencoret Rusia dari daftar calon juara Piala Dunia 2018.

Punya barisan pertahanan yang tangguh
Di era Piala Dunia dengan 32 peserta, tak satu pun dari lima tim juara yang kebobolan lebih dari empat gol di tujuh pertandingan.

Dari tujuh negara unggulan yang tersisa, Polandia adalah satu-satunya tim yang memiliki pertahanan paling lemah. Di babak kualifikasi, Polandia rata-rata kebobolan 1,4 gol per pertandingan.

Yang paling tangguh adalah Jerman dan Portugal, yang kebobolan rata-rata 0,4 gol per pertandingan sementara Belgia dan Prancis 0,6 sedangkan Brasil 0,61.

Argentina rata-rata kebobolan 0,88 gol per pertandingan.

Berasal dari Eropa
Juara Piala Dunia hanya berasal dari kawasan Eropa dan Amerika Selatan.

Biasanya tim Eropa sulit menjadi juara ketika turnamen digelar di negara yang jauh dari benua ini, namun tren itu dipatahkan oleh Spanyol yang juara dalam turnamen di Afrika Selatan dan Jerman dalam Piala Dunia di Brasil.

Ketika turnamen digelar di Eropa, sang juara hampir pasti berasal dari kawasan, seperti yang ditunjukkan dalam 10 turnamen. Satu-satunya pengecualian adalah Brasil yang menjuarai Piala Dunia 1958 di Swedia.

Dengan kriteria ini, maka Brasil dan Argentina dicoret dari calon juara Piala Dunia 2018, sehingga menyisakan Prancis, Belgia, Jerman, dan Portugal.

Punya kiper terbaik
Anda mungkin mengira pencetak gol terbanyak menjadi penentu juara.

Namun data menunjukkan, sejak 1982 hanya ada dua tim juara yang anggota timnya tercatat sebagai pencetak gol terbanyak -yang dianugerahi Sepatu Emas- yaitu anggota tim Brasil, Ronaldo, pada 2002 dan David Villa dari Spanyol pada 2010.

Villa dan tiga pemain lain (Dieogo Forlan, Thomas Muller, dan Wesley Sneijder ) mencetak lima gol.

Kontributor terbesar yang mengantarkan tim menjadi juara tak diragukan lagi adalah penjaga gawang.

Empat dari liga kiper yang mendapat predikat kiper terbaik -yang mendapatkan trofi Sarung Tangan Emas- berasal dari tim yang menjadi juara.

Dari empat kiper calon juara, Manuel Neuer (Jerman), Hugo Lloris (Prancis), dan Thibaut Courtois (Belgia), bisa dikatakan para penjaga gawang terbaik di dunia saat ini.

Kiper Portugal, Rui Patricio, belum dianggap setara dengan mereka dan dengan demikian Portugal harus dicoret dari daftar calon juara.

Berpengalaman
Sejak penyelenggaraan tahun 1998, tim yang menjadi juara didukung oleh para pemain yang kenyang makan asam garam pertandingan internasional.

Prancis pada 1998 misalnya diperkuat oleh pemain yang rata-rata 22,77 kali membela tim nasional.

Empat tahun silam, Jerman memiliki pemain yang rata-rata 42,21 kali membela timnas. Tren di antara tim-tim yang juara menunjukkan mereka semua didukung oleh para pemain yang sangat berpengalaman.

Pada 2002, Brasil didukung oleh pemain yang rata-rata 28,04 membela timnas, dengan Italia rata-rata 32,91 saat juara pada 2006, dan Spanyol 38,30 saat menjadi juara pada Piala Dunia 2010.

Dari tiga tim calon juara yang tersisa, Prancis memiliki level pengalaman yang paling rendah, yaitu 24,56 sementara Jerman 43,26 dan Belgia 45,13.

Maka Prancis terpaksa harus dicoret.

Tidak berstatus juara bertahan
Sangat sulit mempertahankan gelar juara bertahan di Piala Dunia. Hanya Brasil yang bisa melakukannya ketika mereka juara dua kali berturut-turut pada 1958 dan 1962.

Sejak itu tak ada negara yang bisa menyamai prestasi Brasil ini.

Statistik memperlihatkan, sejak 1962 para juara bertahan hanya bisa bertahan hingga perempat final, yaitu Argentina pada 1990 dan Brasil pada 1998.

Pengeculian terjadi pada 1974, ketika Brasil sebagai juara bertahan merebut juara empat ketika format pertandingan memakai sistem dua babak grup.

Dalam empat kali penyelenggaraan terakhir, juara bertahan bahkan gugur tiga kali di babak penyisihan grup.

Rekor Jerman di beberapa penyelenggaraan terakhir sangat memuaskan dengan dua kali juara dan lima kali masuk final dalam sembilan turnamen terakhir.

Apakah mereka akan juara di Rusia tahun ini? Berdasarkan tujuh kriteria di atas, jawabannya adalah sangat sulit.

Dari parameter ini maka yang layak juara Piala Dunia 2018 adalah… Belgia.

Tapi harap diingat, ini semua adalah analisis di atas kertas karena jelas masih berlaku pepatah: bola itu bundar, segalanya bisa saja terjadi.