Siswinya Alami Pelecehan Seksual saat Magang di Batam dan Guru Mereka Juga Berkata..!!!

Tribunsumut.com – MEDAN –  Ketua Jurusan Kecantikan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 8 Medan Linda Beru Ginting meneteskan air mata saat menjawab pertanyaan anggota Komisi C DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan.
Ia berulang kali menyeka air mata di pipinya sembari menjelaskan tentang siswi SMKN 8 magang di Batam, Kepulauan Riau.

smkn_8_20170228_094411
“Kami enggak ada apa-apa. Kalau mereka berhasil jadi kebanggaan kami. Saya kaget baca berita itu, seolah-olah saya menjerumuskan siswa. Kami sampaikan kepada anak-anak bila ada hal-hal yang mengganggu dan tidak nyaman kami akan jemput,” ujarnya di ruang guru SMKN 8 Medan, Jalan Dr Mansyur, Senin (27/2) siang.
Linda menangis usai mendengar pertanyaan Sutrisno tentang panduan siswa-siswi yang magang.
Sutrisno dan Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sumut Abyadi Siregar melakukan inspeksi mendadak (sidak) di SMKN 8, setelah membaca pemberitaan Tribun Medan edisi Senin (27/2) dengan judul Siswi Magang Spa Alami Pelecehan Seks.
Berita tersebut mengulas tentang siswi SMK jurusan kecantikan yang diajak berhubungan badan dan kerap dicolek tamu pada tempat mereka praktik. Dan, para siswi diminta manajemen spa berbintang empat agar tidak menyampaikan pelecehan seksual tersebut kepada orangtua dan dewan guru. Para siswi khawatir dipulangkan dan tidak mendapatkan nilai yang bagus bila mencemarkan nama spa itu.
Linda mengatakan, hanya ingin para siswa berhasil. Artinya, diterima kerja pada perusahaan-perusahaan besar agar menjadi kebanggaan sekolah. Karena itu, sekolah mengklaim sudah memberikan lokasi magang yang bagus.
“Sedih kali memang, sesak kali karena enggak ada sedikitpun niat kami menjerumuskan anak-anak. Semua murni agar mereka punya pengalaman dan pengetahuan. Apalagi SMK lain banyak PKL di Batam,” katanya sembari mengusap air mata.
Ia menceritakan, sekolah menyarankan siswi magang ke Batam agar tidak ketinggalan ilmu pengetahuan bidang kecantikan dengan siswi SMK lainnya. Berulang kali ia sampaikan kepada seluruh siswa agar melapor bila ada tindakan pelecehan seksual.
Selain itu, katanya, ada sebelas siswa jurusan kecantikan yang magang di Kota Batam. Mereka magang selama empat bulan di berbagai lokasi spa yang sudah ditentukan pihak sekolah. Namun, sebenarnya sudah ada kesepakatan sekolah dengan perusahaan spa agar siswa tidak diprioritaskan melayani pelanggan pria dewasa.
“Selama ini, tidak ada tindakan apapun bila mereka minta pulang bisa dikondisikan. Kenapa memilih Batam, karena dekat, ongkos tidak mahal kalau ke Jawa kami tidak sanggup, karena hotelnya tidak menyiapkan penginapan,” ujarnya.
Sutrisno bertanya apakah sekolah punya mekanisme standar saat mengirim siswa-siswi magang, Linda menjawab sebelum mengirim siswi magang, pihak sekolah melakukan survei terlebih dahulu.
“Kami awalnya melakukan survei terlebih dahulu di lokasi magang, kemudian kami menawarkannya kepada siswa. Jika siswi menyetujui, mereka buat permohonan dan ada sesi wawancara via online dengan sekolah maupun siswi,” katanya.
Ia mengaku terkejut saat membaca pemberitaan Tribun Medan/www.tribun-medan.com, sehingga menelepon para siswi yang sedang magang di Batam. Namun, katanya, para siswi mengaku, tidak ada masalah di lokasi magang.
Pihak sekolah, lanjutnya, berjanji menarik para siswi dari Batam bila benar ada pelecehan seksual. Ia menegaskank, seluruh dewan guru tidak akan melakukan pembiaran atau melepas siswa tanpa ada pengawasan.
“Cuma ke sana biayanya tidak ditanggung negara. Orangtua siswa yang membiayai. Tapi, makan dan penginapan siswi ditanggung pihak hotel. Saya pribadi terkejut, karena pada prinsipnya kami pengin anak-anak pintar,” ujarnya.
Dapat Telepon
Sedangkan, Kepala SMKN 8 Medan Hidup Simanjuntak menyatakan, sudah dapat telepon dari pegawai Dinas Pendidikan Sumut sepulang wartawan Tribun Medan dari kantor Dinas Pendidikan Sumut, beberapa hari lalu.
Kala itu, Simanjuntak sedang berada di Jakarta, sehingga meminta wakil kepala sekolah hubungan industri untuk menelusuri informasi itu. Namun, para siswi menyatakan tidak ada yang mendapat pelecehan seksual.
“Saya bersyukur bisa langsung datang ke sini. Jadi prinsipnya begini, sebelum meneken perjanjian kerja sama antara pihak sekolah dengan hotel, kami melakukan penjajakan dan melihat poin-poin yang harus dikerjakan para siswi,” katanya.
Sementara itu, Sutrisno menuturkan, seharusnya ada kerja sama Pemerintah Provinsi Sumut dengan Pemerintah Kepulauan Riau, sehingga para siswa-siswi yang praktik magang dapat terkontrol.
“Seharusnya ada proteksi karena guru tidak setiap saat dapat memantau siswa. Jadi, kalau magang ke spa memang agak rawan terjadi masalah asusila,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dewan guru dan Dinas Pendidikan Sumut harus punya perangkat regulasi yang harus dipatuhi perusahaan agar siswa terlindungi. Apalagi jarak Kota Medan dengan Batam cukup jauh, sehingga butuh koordinasi.
Tidak hanya itu, ia berjanji akan sering datang ke SMKN 8 Medan, karena punya jurusan yang bagus untuk dikembangkan. Bahkan, ke depannya para siswa dapat magang atau kelola penginapan atau mess Pemprov Sumut.
“Ada puluhan mess Pemprov Sumut, yang tidak terurus. Kenapa enggak anak-anak ini dikaryakan di sana? Saya kira Ibu ini (Linda) tidak bersandiwara meneteskan air mata,” katanya.(Tribunsumut.com)