Ternyata Kakek Yang Hilang Selama Ini Tertidur di Dalam Hutan

Tribunsumut.com-Kakek Haris (70) membuat panik keluarganya. Sejak pergi ke kebun dekat hutan pada Selasa, 16 Januari 2018, ia hilang jejak.

Saat kejadian, cuaca sedang hujan ringan di dalam hutan di Kelurahan Mamburungan, Tarakan, Kalimantan Utara. Keluarga yang khawatir akhirnya melaporkan kehilangan Kakek Haris ke Kantor Basarnas Kaltimra, Rabu, 17 Januari 2018.

“Kita terima informasi dari Pos SAR Tarakan pukul 07.30 Wita hari ini. Korban berangkat ke kebunnya dan sampai saat ini korban belum pulang,” kata Kepala Basarnas Kaltimra Gusti Anwar Mulyadi, melalui Kasi Operasi dan Siaga, Octavianto.

Ternyata Kakek Yang Hilang Selama Ini Tertidur di Dalam Hutan
        Ternyata Kakek Yang Hilang Selama Ini Tertidur di Dalam Hutan

Usai mendapat laporan, petugas gabungan dari Pos SAR Tarakan, Sat Radar TNI AU Mamburungan, Satpol PP Tarakan, BPBD Tarakan, hingga Kepolisian Kota Tarakan turun tangan. Keluarga korban dan warga setempat juga ikut serta.

“Pencari dilakukan unsur SAR gabungan sejak pukul 07.45 Wita. Akhirnya ditemukan tim SAR gabungan pukul 13.45 Wita di kebun yang cukup luas dalam hutan,” kata Octavianto.

Saat ditemukan, Kakek Haris sedang tertidur di bawah pohon. Dari informasi yang diterima Octavianto dari keluarga Haris, pria tua itu memiliki riwayat pikun.

Ia disebut sudah lima kali hilang dalam hutan. Kejadian terakhir merupakan yang terlama yang dialami Haris.

“Memiliki riwayat linglung kata anak korban, ini sudah kalinya terjadi setiap ke kebun sendirian,” kata Octa.

Usai ditemukan, tim SAR Gabungan langsung membawa Haris ke Puskesmas setempat sekaligus menyerahkannya ke pihak keluarga. Dengan ini, operasi SAR gabungan dinyatakan ditutup.

Kisah penemuan orang hilang yang tak biasa juga dialami oleh lima nelayan asal Sangihe.

Lima warga Kampung Tinakareng, Kecamatan Nusa Tabukan (Nustab), Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara, yang dikabarkan hilang akibat cuaca buruk sejak 8 Desember 2017 lalu, akhirnya ditemukan pada Sabtu, 6 Januari 2018, dalam kondisi selamat. Lima awak kapal KM Hasrat ditemukan di Biak, Papua.

“Salah satu keluarga kami yang ada di atas pamboat itu menghubungi kami pada hari Sabtu. Dan dari informasi ini, kami bersama kapitalaung langsung meneruskan informasi itu ke pihak terkait,” kata Andries, keluarga dari salah satu awak KM Hasrat, Minggu, 7 Januari 2017.

Andries menambahkan, mereka juga sempat kaget ketika mendapat kabar bahwa awak kapal berada di sebuah pulau yang tidak diketahui secara pasti di mana.

Namun, informasi itu langsung ditindaklanjuti oleh Lanal Tahuna di bawah Komando Kolonel Laut (P) Setiyo Widodo yang berkoordinasi dengan Lanal Biak untuk mencari para awak yang hilang.

Satuan Intel Lanal Tahuna di bawah pimpinan Mayor Laut (P) Agung Dwi Handoko D selaku Pasiintel Lanal langsung mencari jejak posisi nomor ponsel salah satu korban yang ternyata nakhoda KM Hasrat.

Dari hasil komunikasi itu diperoleh informasi tentang posisi pamboat itu di 1’08.115’S 136^42.709’E berada dekat dengan Pulau Padaidori, Biak, Papua.

Setelah mendapatkan titik koordinat dari korban, Lanal Tahuna mengirimkan koordinat tersebut dan nomor ponsel nahkoda kapal KM Hasrat kepada Satuan Ops Lanal Biak.

“Bersama Basarnas Biak dilakukan evakuasi terhadap korban,” ujar Setiyo.

Setiyo mengatakan, kondisi lima warga Sangihe ini dalam keadaan sehat. Para korban sementara ditampung di Kantor SAR Biak guna melaksanakan penanganan lebih lanjut.

“Untuk kondisi kapal korban KM Hasrat mengalami rusak berat, maka diputuskan untuk tidak dibawa dan tetap berada di Pulau Padaidori,” ujar Setiyo.

Camat Nusa Tabukan, T Karim mengatakan warganya dinyatakan hilang setelah bergerak dari Filipina menuju ke Sangihe pada 8 Desember 2017 laut.

Karim mengatakan, kelima warga tersebut masih berada di kapal laut berukuran kecil atau pamboat sekitar 20 mil di belakang Pulau Karakelang, Kabupaten Kepulauan Talaud.

Saat itu, mereka masih sempat memberitahu kepada masyarakat yang ada di Tinakareng karena mesin mereka ada gangguan. Kelima itu adalah Lasdi Hamka, Muliadi Manderes, Burhanudin Tompoh, Feri Tampilang, dan Andika Hamka.

“Ketika masyarakat meminta untuk menjemput, mereka menolak katanya tidak apa-apa karena perahu jalan pelan,” ujar Karim sambil menambahkan, ternyata hingga pagi hari lima warga itu tidak muncul.