Erry Mengaku Dicueki Gatot

Tribunsumut.com, MEDAN – Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry hadir sebagai saksi pada sidang lanjutan dugaan korupsi dana hibah dan bantuan sosial (bansos) Pemprov Sumut 2012-2013 di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (19/9).
Mengenakan kemeja kotak-kotak hitam, Erry memberi kesaksiannya untuk terdakwa Gatot Pujo Nugroho, mantan Gubernur Sumut. Saat bersaksi, Erry menceritakan, ketika baru dilantik sebagai Wakil Gubernur Sumut dan Gatot sebagai Gubernur Sumut pada Juli 2013.
Kala itu, Erry mengaku, menganjurkan Gatot agar lebih memerhatikan kriteria calon penerima hibah dan bansos.
“Saya pernah menyampaikan ini kepada Gubernur (Gatot), setelah satu bulan kami dilantik. Saya sampaikan agar kriteria penerima bansos dibuat pergubnya. Mungkin itu belum ditindaklanjuti,” katanya di hadapan majelis hakim Janiko Girsang di ruang Cakra I.
Setelah menyampaikan anjuran terkait bansos, Erry mengaku, dicueki Gatot. Ia mengaku, dianggap mengintervensi dalam urusan hibah dan bansos.

 

gatot_pujo_nugroho_20160719_225244

“Mungkin waktu saya sampaikan itu, Gubernur tersinggung. Kami jadi jarang berkomunikasi. Apakah ada yang salah dengan penyampaian saya tersebut, saya kurang mengerti. Tapi, kemudian, Gubernur menyampaikan, kalau hal tersebut sekda yang menangani,” ujarnya.

Menurut Erry, sejumlah lembaga penerima dana hibah dan bansos terdengar masih asing dan sarat kepentingan. Namun, lembaga tersebut mendapat bantuan dengan jumlah yang cukup besar.

“Asing mendengar namanya, tapi tetap diberikan bantuan yang cukup besar. Kredibilitasnya juga sangat dipertanyakan, tapi kenapa mendapat bantuan yang begitu besar,” katanya.

Lembaga, yang menurut Erry asing tersebut antara lain Lembaga Khusus Wartawan dengan pencairan dana sebesar Rp 200 juta. Erry merasa, lembaga tersebut tidak layak dapat dana hibah dan bansos.

“Saya lihat kop surat dan stempel berbeda untuk lembaga Khusus Wartawan dan stempel Lembaga Kursus Wartawan. Kemudian saya tanya kepada teman- teman saya di PWI, dan Ketua PWI tidak ada lembaga itu. Jadi, saya tidak mau menandatanginya. Namun, saya lihat akhirnya keluar juga nama lembaga itu dan mendapat kucuran dana Rp 150 juta dari Rp 200 juta. Jadi, yang menandatangni sekda, bukan saya,” bebernya.

Setelah kurang lebih dua jam memberikan kesaksian, Erry beranjak dari kursi saksi.

Sebelum meninggalkan ruang persidangan, Erry berpamitan kepada seluruh perangkat persidangan. Satu per satu ia salami, mulai dari majelis hakim, Jaksa Penuntut Umum hingga pengacara terdakwa.Terahkir, Erry menyalami Gatot.

Jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan Erry untuk memberikan keterangan terkait kasus yang diduga merugikan negara miliaran rupiah itu. Baca Selengkapnya di Harian Tribun Medan edisi Selasa (20/9/2016) BESOK