Konon Berisi Harta Saribu Raja, Batu Hobon di Pusuk Buhit jadi Situs Keramat

Konon Berisi Harta Saribu Raja, Batu Hobon di Pusuk Buhit jadi Situs Keramat

Tribunsumut.com –  SAMOSIR – Batu Hobon yang berada di Pusuk Buhit, Pangururan, Samosir, Sumatera Utara, tepatnya di kaki bukit, mungkin tampak seperti batu besar biasa. Tapi tidak bagi masyarakat sekitar khususnya bagi masyarakat Suku Batak.

pondok_batu_hobon_20160211_122550
Batu tersebut dijaga sedemikian rupa, dibuatkan atap penyangga beton dengan bentuk seperti rumah adat Batak dengan ukiran tradisional.
Tepat di atasnya ada patung Saribu Raja yang berdiri tegak menghadap ke atas. Saat masuk ke ruang batu, sekilas patung tidak tampak karena berada di atas batu dengan penghalang beton.
Tapi saat melangkah naik ke beton tersebut, barulah patung tampak besar tinggi. Begitu pula jika dilihat dari depan, patung juga tidak tampak, hanya celah kanan dan kiri patung bisa dilihat.
Cerita dari mulut ke mulut, batu tersebut dianggap sakral bagi masyarakat setempat, sebab merupakan tempat penyimpanan harta pusaka Saribu Raja.
Siardus, penjaga Batu Hobon menuturkan Batu Hobon berarti peti batu karena hobon artinya peti.
Disebut demikian karena bentuknya berupa batu berdiameter satu meter dengan bagian bawah berongga. Diperkirakan batu ini merupakan sebuah lorong yang mungkin saja berbentuk goa.
Peti batu tersebut dilengkapinya dengan tutup batu di mana pada bagian ujungnya ada lubang yang diyakini berupa kode untuk membuka batu tersebut.

batu_hobon_20160211_121917
Di sisi kiri depan terdapat segel batu, berfungsi sebagai kunci rahasia pembuka yang hanya diketahui oleh Saribu Raja.
Siardus, menuturkan kini Batu Hobon dijadikan tempat berdoa, memanjatkan harapan untuk dimudahkan rezeki.
“Tapi bukan disembah ya, hanya menyakini tradisi karena batu ini diyakini keramat dan sakral sebagai peti penyimpan harta Saribu Raja yang hingga kini tidak bisa dibuka,” katanya.
Menurutnya, sudah sejak dulu, tidak diketahui kapan mula pasti tahunnya tempat ini kerap diadakan upacara sakral yang masih berlanjut hingga sekarang.
Upacara itu diyakini sebagai penghormatan pada roh leluhur sekaligus menerima pewahyuan dari nenek moyang, dikenal dengan sebutan “Tatea Bulan”.
Sagala, penduduk sekitar menuturkan sudah beberapa kali orang berusaha untuk membuka Batu Hobon ini namun selalu gagal dan orang yang berusaha membuka itupun serta merta mendapat bala yang kebanyakan meninggal dunia.
Menurutnya, turun menurun cerita ini terus disampaikan ke mereka. Pada zaman penjajahan Belanda, ada seorang pejabat Pemerintah Belanda dari Pangururan, berusaha untuk membuka Batu Hobon, dia berangkat membawa dinamit berencana untuk menghancurkan batu dan mengambil harta Raja Saribu yang diyakini masih tersimpan di dalamnya.
Pada saat mereka mempersiapkan alat-alat untuk meledakkan Batu Hobon itu dengan tiba-tiba datanglah hujan lebat, disertai angin kencang, serta petir dan guntur yang sambung menyambung, dan tiba-tiba ada ular yang sangat besar cahaya seperti tembakan sinar laser dari langit tepat ke atas Batu Hobon itu, maka orang Belanda itu tiba-tiba pingsan, sehingga dia harus di tandu ke Pangururan, dan setelah sampai Pangururan dia pun meninggal dunia.
Ada juga yang datang dengan membawa perlengkapan senjata dan menembaki batu, bukannya hancur, batu malah tidak tergores sedikit pun.
Dan lagi, penembak itu pun mendapat teguran usai pelurunya kosong ia tampak pontang panting dan jalan berputar-putar hingga akhirnya juga meninggal dunia.
Hingga akhirnya ada pasukan yang berjumlah puluhan orang datang juga mencoba untuk membuka dan memecahkan batu.
Mereka sempat membuka tutup lapisan yang paling atas, tetapi dengan tiba-tiba mereka melihat ular yang sangat besar di Batu Hobon itu sehingga mereka lari terbirit-birit dan usaha mereka untuk membuka Batu Hobon itu gagal.
Tidak berapa lama pimpinan rombongan itupun meninggal dunia dan anggota rombongan itupun banyak yang mendapat bala.
“Tutup Batu Hobon yang terbuka itu, sempat mengundang keresahan. Pada mulanya tutup batu itu tidak dapat diangkat, walaupun telah ratusan orang sekaligus mengangkatnya, tetapi barulah setelah diadakan upacara memohon restu penghuni alam yang ada di tempat itu yang dipimpin oleh salah seorang pengetua adat dari limbong, maka dengan mudah, tutup batu itu dapat diangkat dan dipasang kembali ke tempat semula, sejak itu upacara kerap diadakan di sini,” katanya. (bil/Tribunsumut.com)