Setahun Setelah Rizieq Shihab Meninggalkan Indonesia

TRIBUN SUMUT – Sepi. Demikian suasana markas besar Front Pembela Islam di Jalan Petamburan III Nomor 17 Tanah Abang, Jakarta Pusat. Saban hari bangunan berkaca dengan sablon logo FPI hanya ditunggui satu orang yang bertugas menjaga markas dan menerima tamu. Ia adalah Sahroji, Kepala Sekretariat Dewan Pimpinan Pusat FPI.

“Di sini cuma saya saja,” ujarnya saat saya menemuinya pada Jumat terakhir bulan lalu. Ia menolak diwawancarai dengan alasan saya tak membawa surat resmi dari kantor, dan harus seizin pimpinan FPI, meski saya sudah mengenalkan diri dan menunjukkan kartu identitas redaksi Tribun Sumut dan memberikan kartu nama.

“Wartawan sudah tidak seperti dulu. Dulu wartawan menulis berita, tapi sekarang ‘membuat’ berita,” Sahroji memberikan isyarat secara halus.

Saya dipersilakan Sahroji ke dalam markas FPI setelah memperlihatkan pesan dari Slamet Maarif, juru bicara FPI sekaligus Ketua Persaudaraan Alumni 212. Keengganan FPI kepada media bisa tergambar dalam aksi pada 16 Maret 2018 ketika mereka mendatangi kantor Tempo. Karena dianggap “melecehkan” Rizieq Shihab lewat karikatur dalam Majalah Tempo edisi 26 Februari-4 Maret 201, massa FPI menekan redaksi Tempo untuk meminta maaf.

Reja Hidayat, kolega saya di Tribun Sumut, juga pernah diintimidasi ketika melakukan peliputan di kediaman Rizieq sehari sebelum “Aksi Bela Islam” 2 Desember 2016. Seorang anggota Laskar FPI memukulnya dan meminta rekaman wawancara dihapus.

Sikap reaksioner FPI kepada media arus utama di Jakarta sejalan sikap Rizieq. Medio 2013, saya pernah mencoba mengajukan wawancara khusus kepada Rizieq tapi ia menolak karena “tak percaya” terhadap media. Media massa, kata Rizieq, selalu menghakimi FPI, organisasi masyarakat yang ia besarkan.

Sahroji, meski ketus menolak diwawancarai, tetap meladeni pertanyaan dan menyediakan air mineral. Ia menolak ucapannya direkam.

Saya berbincang mengenai setahun setelah Muhammad Rizieq Shihab meninggalkan Indonesia. Rizieq adalah orang yang paling dihormati oleh seluruh anggota FPI, menyandang “Habib”—gelar untuk garis keturunan Nabi Muhammad—dan Imam Besar. Posisinya di atas Ketua Umum FPI dan membawahi anggotanya di hampir 20 provinsi di Indonesia. Petuah Rizieq selalu didengar oleh anggota FPI.

“Yang penting komunikasi,” Sahroji berkata bagaimana Rizieq berperan memberi komando.

Rizieq pergi ke Mekkah setelah Polri menjeratnya dalam kasus dugaan pornografi pada akhir April 2017. Pada 21 Februari 2018, Rizieq dikabarkan bakal pulang ke Jakarta. Jemaahnya, yang mayoritas anggota FPI, berbondong-bondong menjemput Rizieq di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Namun, heboh-heboh kepulangan sang Imam Besar batal.

Pengajian bulanan di Markas FPI menjadi tempat dakwah bagi Rizieq, yang kini diisi oleh anak serta menantunya. Slamet Maarif, jubir FPI, berkata meski Rizieq di Mekkah, tak ada yang berubah dari FPI, dan Rizieq tak mengurus DPP karena sudah ada pengurusnya.

“DPP sudah punya tugasnya masing-masing,” katanya.

Tapi kepergian Rizieq setahun ini terasa dengan berkurang jumlah jemaah yang hadir dalam pengajian bulanan di markas FPI.

“Kalau jemaah berkurang itu pasti, jemaah rindu kepada Imam Besar,” kata Maarif.

Narasi FPI dalam Dakwah

Dari atas panggung, Ahmad Sobri Lubis, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat FPI, membuka ceramahnya dengan sejarah pendirian FPI. Ia berbicara mengenai kebebasan yang dianggap “kebablasan”, sebelum FPI resmi didirikan Rizieq Shihab setelah tiga bulan Soeharto mundur.

“Jablay banyak apa tidak?” tanya Sobri.

“Banyak,” jawab jemaah.

Setahun Setelah Rizieq Shihab Meninggalkan Indonesia
Setahun Setelah Rizieq Shihab Meninggalkan Indonesia

“Tidak ada yang berani bikin film, [karena] ditangkap di Indonesia. Enggak sopan” kata Sobri, lagi.

Di masa sebelum FPI berdiri, klaim Sobri, Polri dan TNI tak berani menindak segala macam pelanggaran hukum. Mafia menjadi raja dan kemungkaran terjadi di pelosok tanah air, termasuk munculnya film dan majalah porno. Klaim itu pula yang membuat Rizieq, bersama para tokoh muslim, mendirikan FPI untuk membantu kepolisian menegakkan hukum.

Sobri mengklaim, berkat FPI, kini proses penegakan hukum bisa berjalan dengan baik. Sejak itu FPI menyatakan diri mundur teratur untuk tidak mendahului upaya penegakan yang dilakukan kepolisian.

“Kalau tidak ada mafia, polisi tegakin hukum. Tapi, kalau ada mafia kelas berat, enggak jadi,” klaim Sobri. “Kenapa begitu? Karena dia enggak berani sama mafia. Karena mafia punya duit, bisa bayar wartawan, bisa bikin cerita macam-macam.”

Ahmad Sobri Lubis malam itu menjadi salah satu penceramah di perayaan ulang tahun ke-18 Dewan Pimpinan Cabang FPI Tanah Abang, di hari yang sama ketika saya mendatangi markas FPI di Petamburan. Ia datang ditemani Sahroji setelah menggelar rapat untuk membahas persiapan aksi bertajuk “Solidaritas Untuk Palestina 115”, yang akan digelar di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, 11 Mei 2018.

Di acara itu anak-anak hingga orang dewasa berdatangan. Lantunan doa kepada Nabi terus berkumandang. Di sepanjang Jalan Lontar Atas, Laskar Pembela Islam, paramiliter bentukan FPI, mondar-mandir. Karpet digelar dan layar proyektor dipasang memanjang menutupi jalan.

Sobri berbicara 35 menit. Narasi ceramahnya berisi sejarah FPI, termasuk apa yang dia sebut “kriminalisasi terhadap Habib Rizieq Shihab” dengan kasus dugaan pornografi. Ia juga berbicara mengenai kasus dugaan penodaan agama yang dilakukan Sukmawati Soekarnoputri dan pertemuan para ulama menamakan diri “Tim 11” dari Alumni 212 dengan Presiden Jokowi. Sesekali ia mengungkit bagaimana doa Rizieq dari Mekkah bisa memenjarakan Ahok.

“Habib Rizieq bukan takut dipenjara. Dia sudah keluar masuk penjara tiga kali,” kata Sobri.

Narasi ceramah Ahmad Sobri mampu menggiring para jemaah, termasuk menyelipkan dukungan kepada Rizieq di Mekkah. Sesekali Sobri berteriak kalimat takbir, yang diikuti oleh jemaah.

“Kalau saat itu Habib pulang, apa dia ditangkap atau dibunuh, buat dia tidak ada masalah. Tapi buat pengikutnya ada masalah,” teriak Sobri.

“Kalau sampai habib ditangkap, kira-kira ribut atau tidak?”

“Ribut,” teriak jemaah.

“Pasti chaos antara umat Islam lawan polisi. Pasti ribut lawan Cina, pasti ribut umat Islam sama PDIP, pasti ribut umat Islam sama pendukung-pendukung Ahok. Bisa-bisa darah berceceran.”

Tak hanya Ahmad Sobri yang menjadi penceramah. Awit Masyhuri, Ketua Bidang Dakwah DPP FPI, dan Bahar bin Ali bin Smith juga hadir di pengajian tersebut. Mereka menyampaikan narasi ceramah serupa, terutama mengenai tudingan penodaan agama.

“Siap berjuang? Siap bela umat Islam? Takbir!” teriak Awit Masyhuri menutup ceramahnya, diiringi teriakan takbir oleh jemaah. Pengajian itu bubar menjelang pukul 12 malam.

Kendali Rizieq Shihab dari Mekkah

“Ada tidak ada beliau (Rizieq Shihab), program kerja harus dilaksanakan,” Slamet Maarif, jubir FPI sekaligus Ketua Persaudaraan Alumni 212, berkata kepada saya di kantornya, kawasan Condet, Jakarta Timur, Kamis terakhir bulan lalu.

Kerja-kerja FPI, kata Maarif, tetap berjalan meski tanpa kehadiran Imam Besar. Rizieq tetap melakukan komunikasi. Ketika aksi menuntut Sukmawati Soekarnoputri dipenjara karena diduga melakukan penodaan agama, Rizieq memberi pesan kepada seluruh anggota FPI agar demo dilakukan secara tertib dan menjaga keamanan.

“Beliau sangat taat hukum, sangat konstitusional betul,” klaim Maarif.

Menurut Maarif, jemaah dari pengajian FPI yang biasa diisi ceramah oleh Rizieq rindu kepada Imam Besar. “Para jemaah banyak yang menemui Imam Besar di Mekkah,” klaimnya.

Kini, dengan sosok Rizieq di Mekkah, tetapi lewat narasi ceramah pada pengajian yang digelar FPI, dukungan terhadap Rizieq selalu digaungkan. Rizieq dinarasikan sebagai korban kriminalisasi ulama dari pemerintahan Joko Widodo. Terbaru, upaya penghentian kasus Rizieq diungkap Tim 11 Ulama Alumni 212 saat menemui Presiden Joko Widodo di Istana Bogor.

“Umat tidak pernah merasa jauh Habib Rizieq. Setiap hari pasti kedengeran suaranya. Begitu ada tablig, di situ dia ngisi (ceramah),” kata Sahroji, Kepala Sekretariat Dewan Pimpinan Pusat FPI.

Jemaah FPI merindukan Rizieq Shihab pulang ke Indonesia.