Usai Demo 4 November Beginilah Kondisi Medan Merdeka

Tribunsumut.com –”Air, air, air!” kata seorang pria membawa berbotol-botol air minum dalam kemasan, melintasi Jalan Medan Merdeka Barat yang porak-poranda. Pria ini berani berjualan di medan laga demonstran karena kondisi memang sudah kondusif.

Terpantau di kawasan yang mengarah ke Istana Merdeka ini, Jumat (4/11/2016) pukul 20.50 WIB, udara masih terasa pedih di mata, sisa-sisa gas air mata dari aparat kepolisian yang menghalau pengunjuk rasa beberapa jam sebelumnya.

Ambulans meraungkan sirinenya, lantunan Surat Yasin terdengar jelas betul dari pengeras suara arah Monas. Terlihat beberapa orang masih ada di sini, meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding ribuan massa demonstran tadi.

Sampah-sampah berupa botol air mineral, bambu, kardus, dan lain sebagainya dikumpulkan di beberapa titik, kemudian dibakar. Titik-titik api menyembulkan asap yang cukup membikin batuk di suasana remang ini.

Sampah-sampah berserakan. Batu sisa lemparan sampai sandal yang tercecer ditemui di manapun mata mengarah.

Movable Concreate Barrier (MCB) alias pembatas beton terlihat roboh. Pembatas beton ini adalah fasilitas lalu lintas, pembatas jalan umum dengan Busway TransJakarta. Kondisinya rusak lebih dari satu titik.

Melongok ke Gedung Radio Republik Indonesia, polisi menyandarkan bahunya di tembok dan melafalkan ayat-ayat suci Alquran, meski tanpa membaca. Salah seorang temannya hanya termangu duduk di samping.

Terlihat seorang pria tanpa seragam dibebat kaki kirinya. “Terkilir ini,” kata dia meringis. Ada pula pria bertubuh subur yang digotong memakai tandu ambulans, kepayahan terkena pedihnya gas air mata. “Dia handphone-nya hilang juga,” kata salah seorang petugas ambulans soal pria tambun itu.

Lantai toilet di Gedung ini nampak berlumpur, warnanya coklat tua, karena tanah Jakarta memang cukup lengket bila terkena air. Tolitet ini sudah digunakan banyak orang usai demonstrasi.